Waktu anak saya, Samuel masih di dalam kandungan, seorang ibu menasehati kami di gereja, bahwa kami harus se-ring berkomunikasi dengan anak, bercakap-cakap dengan dia, walau dia masih berada di dalam kandungan ibunya. Kami setuju dengan nasehat dan konsep ibu tadi, maka kami mempraktekannya.
Kami sering bercakap-cakap dengan si kecil. Mengobrol dan bercerita tentang banyak hal. Sering, istri saya me-nyanyikan lagu-lagu pujian bagi Tuhan, dan membiasakan anak kami mendengarnya. Tentu, si Samuel kecil juga memberikan respon dengan berbagai tingkah dan reaksinya di dalam perut ibunya.
Salah satu lagu yang sering saya nyanyikan :
Tuhan Yesus setia, Dia sahabat kita
Dalam s’gala susahmu, selalu menghiburmu
Dia mengerti bahasa, tetesan air mata
Walau badai mengamuk, dan gelombang menerjang,
Tuhan Yesus setia!
Kami sadar, bahwa sebagai orang tua, sangat terbatas kemampuan kami untuk “mengerti bahasa tetesan air mata” anak kami yang akan lahir. Kami mengimani lagu ini, bahwa hanya Tuhan Yesus sendiri yang mengerti dan menjadi penghibur bagi anak kami kelak!
Sewaktu istri saya melahirkan, oleh kemurahan Tuhan, saya sempat melihat waktu anak saya dibawa oleh para suster. Saya tak sadar, ikut masuk ke dalam ruang tempat perawatan bayi. Posisi anak saya kaki dipegang seorang suster, kepalanya di bawah. Dia menangis dan menangis. Refleks, saya mendekati telinganya dan menyanyikan lagu tadi : “TUHAN YESUS SETIA”. Ajaib, bayi tadi berhenti menangis beberapa detik! Bagi saya, seolah dia mencoba me-ngenali suara saya!! Luar biasa!! Kemudian dia menangis lagi. Dan saat itulah para suster mengusir saya, karena baru sadar bahwa saya kok masuk ke ruang itu!
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya." 2 Timotius 2:13
Tampilkan postingan dengan label Pengalamanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalamanku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Juli 2010
Melihat Kak Yos Main Keyboard
Suatu hari, seorang gadis berbincang denganku seusai suatu acara.
Kata gadis itu : “Kak Yos, sekarang aku melayani TUHAN, aku main keyboard! “
Pertanyaanku : “Puji Tuhan… oh ya, kalau boleh tahu, apa yang mendorongmu untuk menjadi pelayan Tuhan dalam bidang musik?”
Jawab gadis itu : “Karena beberapa waktu yang lalu, aku sering lihat kak Yosafat melayani kebaktian para pekerja, tukang becak, pembantu rumah tangga dan orang-orang miskin di sebuah acara kebaktian. Aku sering perhatikan kak Yos main keyboard. Saat itulah aku punya kerinduan untuk melayani TUHAN lewat musik…”
Ucapanku : “Puji Tuhan!” [Walau aku tidak bisa main keyboard dengan benar dan sempurna…]
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu. 1 Timotius 4:12
Kata gadis itu : “Kak Yos, sekarang aku melayani TUHAN, aku main keyboard! “
Pertanyaanku : “Puji Tuhan… oh ya, kalau boleh tahu, apa yang mendorongmu untuk menjadi pelayan Tuhan dalam bidang musik?”
Jawab gadis itu : “Karena beberapa waktu yang lalu, aku sering lihat kak Yosafat melayani kebaktian para pekerja, tukang becak, pembantu rumah tangga dan orang-orang miskin di sebuah acara kebaktian. Aku sering perhatikan kak Yos main keyboard. Saat itulah aku punya kerinduan untuk melayani TUHAN lewat musik…”
Ucapanku : “Puji Tuhan!” [Walau aku tidak bisa main keyboard dengan benar dan sempurna…]
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam
kesucianmu. 1 Timotius 4:12
Lebih Baik Dari Aku
Suatu hari aku bertemu dengan teman lama, sekarang menjadi seorang pimpinan sebuah pabrik. Dia mengatakan bahwa kondisi rohani ‘hidup’ku lebih daripada ‘hidup’nya.
Pertanyaanku : “Apa alasanmu mengatakan hal itu? Bukankah kenyataan saat ini, kamu menjadi pimpinan sebuah pabrik, produksinya juga terkenal. Punya rumah, mobil, istri dan anak-anak. Bagaimana mungkin kamu katakan bahwa kondisiku hari ini lebih baik darimu? Aku masih menyewa rumah, Cuma punya sepeda motor, dan saat ini lagi mencari pekerjaan…”
Jawab temanku : “Ya, itu fakta secara jasmani. Tapi dalam hal rohani, aku kalah dibandingkan kondisiyang kamu miliki saat ini … “
Pertanyaanku : “Dalam hal rohani? Dari mana ukurannya?”
Jawaban temanku : “Karena kamu lebih dekat kepada Tuhan dibandingkan kondisiku saat ini! Saat ini kau dalam kondisi yang kuinginkan, bagaimana hidup bisa berharap kepada Tuhan, bukan dalam kecemasan dan kekhawatiran seperti kondisiku saat ini….”
[Siang itu temanku membantuku dengan memerintahkan anak buahnya untuk kuberi pelajaran program desain grafis untuk produk mereka.]
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40:29
Pertanyaanku : “Apa alasanmu mengatakan hal itu? Bukankah kenyataan saat ini, kamu menjadi pimpinan sebuah pabrik, produksinya juga terkenal. Punya rumah, mobil, istri dan anak-anak. Bagaimana mungkin kamu katakan bahwa kondisiku hari ini lebih baik darimu? Aku masih menyewa rumah, Cuma punya sepeda motor, dan saat ini lagi mencari pekerjaan…”
Jawab temanku : “Ya, itu fakta secara jasmani. Tapi dalam hal rohani, aku kalah dibandingkan kondisiyang kamu miliki saat ini … “
Pertanyaanku : “Dalam hal rohani? Dari mana ukurannya?”
Jawaban temanku : “Karena kamu lebih dekat kepada Tuhan dibandingkan kondisiku saat ini! Saat ini kau dalam kondisi yang kuinginkan, bagaimana hidup bisa berharap kepada Tuhan, bukan dalam kecemasan dan kekhawatiran seperti kondisiku saat ini….”
[Siang itu temanku membantuku dengan memerintahkan anak buahnya untuk kuberi pelajaran program desain grafis untuk produk mereka.]
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Yesaya 40:29
Minta Ampun Kepada Orang Tua
Tanya seorang pemuda kepadaku, apakah perlu meminta ampun atas dosa kepada orang tua, dan kapan dilakukan?
Pertanyaan : “Kak Yos, perlukah meminta ampun dosa kepada orang tua, dan waktu yang tepat, kapan melakukannya?”
Jawabanku : “Tidak ada kriteria khusus tentang hal ini, tapi saya punya pengalaman yang indah soal pengampunan. Dulu aku pernah menyakitkan hati mamaku. Sewaktu masih SMP, aku berlatih menyanyi untuk paduan suara kaum muda. Waktu itu mamaku menyuruhku melakukan suatu pekerjaan, tapi aku menolaknya, hingga mamaku menangis… “
Pertanyaan : “Kak Yos langsung minta ampun?”
Jawabanku : “Tidak, tapi sewaktu mamaku sakit, dan menjelang kematiannya, TUHAN memberikan aku kesempatan indah. Sewaktu aku mau berangkat bekerja ke kota Surabaya, suatu malam aku sempat minta ampun kepadanya… “
Pertanyaan : “Setelah itu???”
Jawabanku : “Nah, itulah peristiwa yang tak terlupakan. Setelah aku bekerja beberapa minggu, boss-ku menyuruh aku pulang ke desa. Waktu itu aku tahu, bahwa mamaku pasti sudah meninggal. Tapi aku tidak menyesal, karena aku masih DIBERI KESEMPATAN MINTA AMPUN DOSAku sebagai anak yang tentunya menyakiti hatinya!”
Pertanyaan : “Kepada papa juga?”
Jawabanku : “Ya, beberapa tahun sebelumnya, waktu aku masih duduk di bangku SMP, papakupun juga meninggal karena penyakitnya. Tapi kurang beberapa hari, sekali lagi TUHAN memberi kesempatan padaku untuk MEMINTA AMPUN padanya. Hanya selisih beberapa hari saja! Suatu hari, setelah pulang dari gereja, Firman Tuhan membimbingku untuk meminta ampun kepada papaku. Beberapa hari kemudian, papa dipanggil Tuhan!”
…. [pemuda itu terdiam. Mungkin berpikir..]
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:7
Pertanyaan : “Kak Yos, perlukah meminta ampun dosa kepada orang tua, dan waktu yang tepat, kapan melakukannya?”
Jawabanku : “Tidak ada kriteria khusus tentang hal ini, tapi saya punya pengalaman yang indah soal pengampunan. Dulu aku pernah menyakitkan hati mamaku. Sewaktu masih SMP, aku berlatih menyanyi untuk paduan suara kaum muda. Waktu itu mamaku menyuruhku melakukan suatu pekerjaan, tapi aku menolaknya, hingga mamaku menangis… “
Pertanyaan : “Kak Yos langsung minta ampun?”
Jawabanku : “Tidak, tapi sewaktu mamaku sakit, dan menjelang kematiannya, TUHAN memberikan aku kesempatan indah. Sewaktu aku mau berangkat bekerja ke kota Surabaya, suatu malam aku sempat minta ampun kepadanya… “
Pertanyaan : “Setelah itu???”
Jawabanku : “Nah, itulah peristiwa yang tak terlupakan. Setelah aku bekerja beberapa minggu, boss-ku menyuruh aku pulang ke desa. Waktu itu aku tahu, bahwa mamaku pasti sudah meninggal. Tapi aku tidak menyesal, karena aku masih DIBERI KESEMPATAN MINTA AMPUN DOSAku sebagai anak yang tentunya menyakiti hatinya!”
Pertanyaan : “Kepada papa juga?”
Jawabanku : “Ya, beberapa tahun sebelumnya, waktu aku masih duduk di bangku SMP, papakupun juga meninggal karena penyakitnya. Tapi kurang beberapa hari, sekali lagi TUHAN memberi kesempatan padaku untuk MEMINTA AMPUN padanya. Hanya selisih beberapa hari saja! Suatu hari, setelah pulang dari gereja, Firman Tuhan membimbingku untuk meminta ampun kepada papaku. Beberapa hari kemudian, papa dipanggil Tuhan!”
…. [pemuda itu terdiam. Mungkin berpikir..]
Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:7
Darah Mamaku
Waktu mama sakit kanker kandungan, aku tahu dia tidak akan tertolong lagi. Suatu hari, sepulang dari sebuah lab. Di kota Blitar, aku naik becak dengan membawa sampel (contoh) darah mamaku. Di tanganku, aku memandang sedikit darah, yang dahulu pernah dikeluarkannya waktu melahirkan aku. Darah mama yang juga mengalir di tu-buhku saat ini.
Pertanyaanku : “TUHAN, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan nyawa mamaku? Apakah yang bisa kulakukan? Tolonglah aku, TUHAN!”
JAWAB TUHAN : “Yos, darah mamamu yang kau pegang, kau TIDAK MUNGKIN MEMBALASNYA… apalagi Darah-Ku yang Kutumpahkan bagimu di atas salib…
kau TAK MUNGKIN MEMBALASNYA!
Jika aku mengangkat roti perjamuan suci dan gelas perjamuan suci, adegan ini terbayang jelas di mata batinku. Ya, aku tak mungkin membalas darah mamaku dan Tuhan Yesus yang sudah dialirkan bagiku!
Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:13-14)
Pertanyaanku : “TUHAN, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan nyawa mamaku? Apakah yang bisa kulakukan? Tolonglah aku, TUHAN!”
JAWAB TUHAN : “Yos, darah mamamu yang kau pegang, kau TIDAK MUNGKIN MEMBALASNYA… apalagi Darah-Ku yang Kutumpahkan bagimu di atas salib…
kau TAK MUNGKIN MEMBALASNYA!
Jika aku mengangkat roti perjamuan suci dan gelas perjamuan suci, adegan ini terbayang jelas di mata batinku. Ya, aku tak mungkin membalas darah mamaku dan Tuhan Yesus yang sudah dialirkan bagiku!
Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:13-14)
Papaku Perokok Berat Dan Pemikir Berat
Sewaktu papaku sakit keras, aku rasa ini karena dia perokok berat dan suka memendam perasaan, memikirkan masalahnya sendiri, suka mengalah walau di-jahati (dikhianati) oleh teman-temannya.
Pertanyaanku : “Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti papaku? Meninggal karena penyakit paru-parunya, dan beberapa temannya menyatakan bahwa dia terlalu ‘memikir’kan masalah yang dihadapinya dengan begitu berat!”
Jawabanku : “Aku tidak mau seperti papaku. Mati karena rokok, sebagai penyebab penyakitnya. Akhirnya mama yang menderita. Aku tidak mau merokok, dan aku tidak mau memikirkan persoalan hidup secara berle-bihan. Aku harus belajar memanajemen pikiranku, supaya bebas, dan memandang segalanya dengan wajar dan normal.”
Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk
menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
Roma 15:4
Pertanyaanku : “Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti papaku? Meninggal karena penyakit paru-parunya, dan beberapa temannya menyatakan bahwa dia terlalu ‘memikir’kan masalah yang dihadapinya dengan begitu berat!”
Jawabanku : “Aku tidak mau seperti papaku. Mati karena rokok, sebagai penyebab penyakitnya. Akhirnya mama yang menderita. Aku tidak mau merokok, dan aku tidak mau memikirkan persoalan hidup secara berle-bihan. Aku harus belajar memanajemen pikiranku, supaya bebas, dan memandang segalanya dengan wajar dan normal.”
Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk
menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
Roma 15:4
apaku Suka Membagi
Banyak hal yang kupelajari dari papaku almarhum. Sewaktu aku masih duduk di kelas SD, seingatku sepulang sekolah sering aku melihat di dapur banyak bahan-bahan masakan, sayuran dan sebagainya.
Peratanyaanku pada mama : “Ma, dari mana semua itu? “
Jawaban mama : “Ada yang memberi papamu…”
Pertanyaanku : “Siapa mereka ma?”
Jawaban mama : “Biasanya, mereka orang-orang desa, yang menserviskan arlojinya ke papamu. “
Pertanyaanku : “Service arloji khan pekerjaan papa, dan membayarnya biasanya menggunakan uang?”
Jawaban mama : “Itulah kelebihan dan kebaikan hati papamu! Jika mereka belum punya uang cukup untuk membayar ongkos service-nya, maka papamu memberikan kebebasan kepada mereka. Sebagai balas budi kebaikkan papamu, mereka melunasi ‘kekurangan ongkos service’nya dengan bonus-bonus bahan masakan, sayuran, buah dan lain-lain…”
[Selain itu, papaku juga sering membagikan hasil buruannya. Waktu itu, 30 tahun yang lalu, papa masih memiliki hobi berburu, menembak bajing / tupai atau burung. Tapi sepanjang perjalanan pulang, papa sering membagi-bagikan hasil buruannya ke teman-teman yang dijumpainya.]
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ibrani 12:10
Peratanyaanku pada mama : “Ma, dari mana semua itu? “
Jawaban mama : “Ada yang memberi papamu…”
Pertanyaanku : “Siapa mereka ma?”
Jawaban mama : “Biasanya, mereka orang-orang desa, yang menserviskan arlojinya ke papamu. “
Pertanyaanku : “Service arloji khan pekerjaan papa, dan membayarnya biasanya menggunakan uang?”
Jawaban mama : “Itulah kelebihan dan kebaikan hati papamu! Jika mereka belum punya uang cukup untuk membayar ongkos service-nya, maka papamu memberikan kebebasan kepada mereka. Sebagai balas budi kebaikkan papamu, mereka melunasi ‘kekurangan ongkos service’nya dengan bonus-bonus bahan masakan, sayuran, buah dan lain-lain…”
[Selain itu, papaku juga sering membagikan hasil buruannya. Waktu itu, 30 tahun yang lalu, papa masih memiliki hobi berburu, menembak bajing / tupai atau burung. Tapi sepanjang perjalanan pulang, papa sering membagi-bagikan hasil buruannya ke teman-teman yang dijumpainya.]
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ibrani 12:10
Jumat, 16 Juli 2010
Kok Begini Cara Kerja Mereka?
Suatu hari, aku membantu sebuah kegiatan di gereja. Kukerjakan apa yang bisa kulakukan. Ada hal-hal yang kadang aneh, di mana banyak kegiatan, terlalu banyak “PROSEDUR”nya yang tidak perlu (sebenarnya). Aku komplain kepada TUHAN.
Pertanyaanku : “TUHAN, mengapa orang-orang yang melayani-Mu seperti begini tingkahnya? Terlalu banyak aturan yang aneh-aneh dan selalu mengatakan “katanya si A harus begitu, katanya si B harus begini.” Bagaimana bisa cepat selesai kalau begini caranya?”
Jawaban Tuhan : “ALLAH itu UNIVERSAL Yos!”
Pertanyaanku : “Apa maksudnya ?”
Jawaban Tuhan : “Selambat apapun mereka, se-RUWET apapun prosedur yang mereka ciptakan, ALLAH TETAP BEKERJA SECARA UNIVERSAL, MENYELURUH! Dan hasilnya tetap seusai TARGET-Ku!”
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang
mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan
rencana Allah. Roma 8:28
Pertanyaanku : “TUHAN, mengapa orang-orang yang melayani-Mu seperti begini tingkahnya? Terlalu banyak aturan yang aneh-aneh dan selalu mengatakan “katanya si A harus begitu, katanya si B harus begini.” Bagaimana bisa cepat selesai kalau begini caranya?”
Jawaban Tuhan : “ALLAH itu UNIVERSAL Yos!”
Pertanyaanku : “Apa maksudnya ?”
Jawaban Tuhan : “Selambat apapun mereka, se-RUWET apapun prosedur yang mereka ciptakan, ALLAH TETAP BEKERJA SECARA UNIVERSAL, MENYELURUH! Dan hasilnya tetap seusai TARGET-Ku!”
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang
mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan
rencana Allah. Roma 8:28
Cinta Tuhan
Saat sibuk bekerja dan seorang diri, sering muncul pertanyaan :
Tanya Tuhan kepadaku : “Sejauh apa engkau mengasihi-Ku dan sedalam apa engkau mencintai Aku?”
Jawabanku : “Dunia punya ukuran dan ungkapan “Kasih ibu sepanjang apa dan kasih anak sepanjang apa…” Dengan bahasa dunia yang mana aku mengukur kasihku kepada-Mu? Dalam diriku Cuma ada ukuran UNTUNG ATAU RUGI saja! Secara fisik, aku seperti ini. Jarang berdoa, jarang membaca firman-Mu.. dan itu biasanya dibuat ukuran seberapa jauh aku mengasihi Engkau oleh teman-temanku, apa yang bisa kukatakan, selain bahwa itulah kemampuanku ? ”
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, Efesus 3:18
Tanya Tuhan kepadaku : “Sejauh apa engkau mengasihi-Ku dan sedalam apa engkau mencintai Aku?”
Jawabanku : “Dunia punya ukuran dan ungkapan “Kasih ibu sepanjang apa dan kasih anak sepanjang apa…” Dengan bahasa dunia yang mana aku mengukur kasihku kepada-Mu? Dalam diriku Cuma ada ukuran UNTUNG ATAU RUGI saja! Secara fisik, aku seperti ini. Jarang berdoa, jarang membaca firman-Mu.. dan itu biasanya dibuat ukuran seberapa jauh aku mengasihi Engkau oleh teman-temanku, apa yang bisa kukatakan, selain bahwa itulah kemampuanku ? ”
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, Efesus 3:18
Mengapa Bukan Aku Yang Kau Tolong?
Suatu malam saya ikut rombongan teman-teman se gereja untuk mengadakan acara ucapan syukur satu keluarga. Keluarga ini akan menyekolahkan putra mereka ke luar negeri. Dalam acara, waktu makan malam, aku bertanya :
Pertanyaanku : “TUHAN, mengapa bukan aku yang Engkau tolong? Mengapa bukan aku yang dibantu dengan masalah berat yang kuhadapi saat ini? Mengapa anak ini yang Kau ijinkan sekolah ke luar negeri? Mengapa?”
Pada akhir acara, putra keluarga tersebut diberi kesempatan menyampaikan isi hatinya.
Jawaban Tuhan : “Pemuda tadi menyampaikan ucapan
terima kasih kepada papa, mamanya, saudara-saudaranya… tamu-tamu yang datang, teman-teman segereja dan kepada kak Yosafat… “
Aku kaget mendengar namaku disebut pemuda tadi. Lalu sepanjang jalan pulang aku bertanya-tanya, me-ngapa dia menyebut namaku? Mengapa dia ingat aku? Mengapa pemuda ini berterima kasih padaku? Keba-ikan apa yang telah kulakukan padanya?
Jawaban Tuhan : “Kamu mungkin lupa, tapi Aku
mengingatnya. Demikian juga pemuda yang kepada-Ku kamu protes dan cemburu. Dia ingat, sering kali waktu di kebaktian, dia duduk di luar gereja. Lalu kamu mengajaknya berdialog. Seringkali kamu memberikan motivasi kepadanya untuk – kalau mau dan sementara orang tuanya mampu – bersekolah ke luar negeri… itulah kebaikkanmu yang diingatnya… “
Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Amsal 19:20
Pertanyaanku : “TUHAN, mengapa bukan aku yang Engkau tolong? Mengapa bukan aku yang dibantu dengan masalah berat yang kuhadapi saat ini? Mengapa anak ini yang Kau ijinkan sekolah ke luar negeri? Mengapa?”
Pada akhir acara, putra keluarga tersebut diberi kesempatan menyampaikan isi hatinya.
Jawaban Tuhan : “Pemuda tadi menyampaikan ucapan
terima kasih kepada papa, mamanya, saudara-saudaranya… tamu-tamu yang datang, teman-teman segereja dan kepada kak Yosafat… “
Aku kaget mendengar namaku disebut pemuda tadi. Lalu sepanjang jalan pulang aku bertanya-tanya, me-ngapa dia menyebut namaku? Mengapa dia ingat aku? Mengapa pemuda ini berterima kasih padaku? Keba-ikan apa yang telah kulakukan padanya?
Jawaban Tuhan : “Kamu mungkin lupa, tapi Aku
mengingatnya. Demikian juga pemuda yang kepada-Ku kamu protes dan cemburu. Dia ingat, sering kali waktu di kebaktian, dia duduk di luar gereja. Lalu kamu mengajaknya berdialog. Seringkali kamu memberikan motivasi kepadanya untuk – kalau mau dan sementara orang tuanya mampu – bersekolah ke luar negeri… itulah kebaikkanmu yang diingatnya… “
Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Amsal 19:20
Hari Natal
Beberapa kali merayakan hari Natal :
Pertanyaan : “Kak Yos, apa yang paling terkesan pada waktu perayaan hari Natal?”
Jawabanku : “Pasti aku ingat waktu aku kecil, masih SD, hari Natal… berlatih menyanyi, menerima kado dari guru-guru sekolah minggu…
sangat menyenangkan!”
Pertanyaan : “Bagaimana dengan pribadi Tuhan Yesus?”
Jawabanku : “Itulah yang selalu membuatku bersyukur, atas kesediaan-Nya untuk lahir ke Bumi buat aku, buat kita semua! Dan, sering aku membayangkan bagaimana MASA KECIL Tuhan Yesus kita? Apakah dia seperti anak-anak kecil lainnya? Bermain-main, sekolah, belajar, dan tumbuh menjadi remaja… dan aku selalu terharu kalau membayangkan bayi YESUS ditaruh di palungan…”
Pertanyaan : “Merasa kasihan atau iba . . . ?”
Jawabanku : “Mungkin, tapi kebanyakan bersyukur dan berterima kasih apda-Nya! Apalagi ada yang mengatakan bahwa palungan di gambar-gambar itu terlalu bagus. Ada yang pernah melihat bahwa palungan itu terbuat dari BATU! Coba kita bayangkan,
bagaimana kalau kulit bayi kecil itu terkena batu yang keras . . . apakah Dia tidak menangis kesakitan waktu itu?”
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Filipi 2:8
Pertanyaan : “Kak Yos, apa yang paling terkesan pada waktu perayaan hari Natal?”
Jawabanku : “Pasti aku ingat waktu aku kecil, masih SD, hari Natal… berlatih menyanyi, menerima kado dari guru-guru sekolah minggu…
sangat menyenangkan!”
Pertanyaan : “Bagaimana dengan pribadi Tuhan Yesus?”
Jawabanku : “Itulah yang selalu membuatku bersyukur, atas kesediaan-Nya untuk lahir ke Bumi buat aku, buat kita semua! Dan, sering aku membayangkan bagaimana MASA KECIL Tuhan Yesus kita? Apakah dia seperti anak-anak kecil lainnya? Bermain-main, sekolah, belajar, dan tumbuh menjadi remaja… dan aku selalu terharu kalau membayangkan bayi YESUS ditaruh di palungan…”
Pertanyaan : “Merasa kasihan atau iba . . . ?”
Jawabanku : “Mungkin, tapi kebanyakan bersyukur dan berterima kasih apda-Nya! Apalagi ada yang mengatakan bahwa palungan di gambar-gambar itu terlalu bagus. Ada yang pernah melihat bahwa palungan itu terbuat dari BATU! Coba kita bayangkan,
bagaimana kalau kulit bayi kecil itu terkena batu yang keras . . . apakah Dia tidak menangis kesakitan waktu itu?”
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Filipi 2:8
Siapakah Yesus?
Sewaktu terjadi kegemparan karena terbitnya buku-buku yang mengoncangkan iman kita tentang Tuhan Yesus, seorang pemuda bertanya :
Pertanyaan : “Kak Yos, menurut kak Yos apakah keyakinan kak Yos terhadap Tuhan Yesus berubah dengan adanya banyak buku-buku saat ini?”
Jawabku : “Ya tidak lah… Yesus yang saya kenal tidak berubah. Hanya orang-orang di
sekitar kita yang berubah.”
Pertanyaan : “Jika ternyata terbukti buku-buku itu benar dan Tuhan Yesus yang salah . . . ?”
Jawabanku : “Saya sudah kenal Tuhan Yesus sejak kelas 2 SD, jadi sampai sekarang sekitar 33 TAHUN. Sekarang, ada orang yang mengatakan apapun tentang Tuhan
Yesus, saya tetap mengenal Dia seperti dulu. Tidak berubah. Sama seperti orang tuaku. Aku mengenal mereka sejak kecil. Jika sekarang ada seseorang atau satu keluarga mengaku aku sebagai anak mereka, tentu aku tidak akan menerimanya. Aku tetap anak orang tuaku yang kukenal selama puluhan tahun. Demikian juga dengan Tuhan Yesus yang kukenal sejak kelas 2 SD dulu… tidak berubah, apapun kata orang
tentang Dia!“
"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Mazmur 91:14
Pertanyaan : “Kak Yos, menurut kak Yos apakah keyakinan kak Yos terhadap Tuhan Yesus berubah dengan adanya banyak buku-buku saat ini?”
Jawabku : “Ya tidak lah… Yesus yang saya kenal tidak berubah. Hanya orang-orang di
sekitar kita yang berubah.”
Pertanyaan : “Jika ternyata terbukti buku-buku itu benar dan Tuhan Yesus yang salah . . . ?”
Jawabanku : “Saya sudah kenal Tuhan Yesus sejak kelas 2 SD, jadi sampai sekarang sekitar 33 TAHUN. Sekarang, ada orang yang mengatakan apapun tentang Tuhan
Yesus, saya tetap mengenal Dia seperti dulu. Tidak berubah. Sama seperti orang tuaku. Aku mengenal mereka sejak kecil. Jika sekarang ada seseorang atau satu keluarga mengaku aku sebagai anak mereka, tentu aku tidak akan menerimanya. Aku tetap anak orang tuaku yang kukenal selama puluhan tahun. Demikian juga dengan Tuhan Yesus yang kukenal sejak kelas 2 SD dulu… tidak berubah, apapun kata orang
tentang Dia!“
"Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Mazmur 91:14
Hukuman Dari Sidang Jemaat
Suatu hari, seorang pemuda berkeluh kesah padaku karena dia merasa di”khianati” oleh teman se-kuliah-nya, sehingga mendapat hukuman dari kampusnya. Dia sangat depresi dan merasa bahwa hukuman akan diterimanya dari : lingkungan, orang-tua, guru-guru, bahkan dari sidang jemaat di gerejanya.
Pertanyaan : “Pak Yos pernah mengalami perasaan seperti saya saat ini pak? Saya malu, saya merasa terhina, dan tidak ada muka lagi kalau saya datang ke gereja… “
Jawabanku : “Ya, itulah resiko seseorang yang telah berbuat dosa, dan telah diketahui / dibuka dosanya di depan umum. Aku dulu juga pernah mengalami hal ini, bahkan mungkin sampai sekarang, banyak yang masih menuduh dan menganggap bahwa aku adalah orang yang berdosa! Walau dosa yang kuperbuat itu sudah beberapa tahun yang lalu!”
Pertanyaan : “Bagaimana cara kak Yos menghadapi itu semua?”
Jawabanku : “Memang berat, rasanya hampir tidak be-rani muncul ke gereja, sama seperti kondisimu saat ini. Tapi, setelah beberapa waktu, banyak teman yang mengkuatkan dan mendorongku kembali. Dan, aku sadar, memang itulah RESIKO yang harus kute-rima sebagai seseorang yang berbuat dosa! Jadi, walaupun aku tidak ke gereja atau ke gereja, sama saja. Aku harus menanggung akibat perbuatanku itu!”
Pertanyaan : “Berapa lama hukuman itu kak Yos terima?”
Jawabanku : “Wah, itu kadang tergantung perasaan kita. Kupikir orang-orang (teman-teman, jemaat gereja) sudah lupa atau melupakan. Tapi perkiraanku meleset, masih ada juga yang mengingat-ingat setelah bertahun-tahun. Dan, mereka juga sering menceritakan dosa-dosaku ke orang lain juga!”
Pertanyaan : “Wow!... berat juga ya, hukuman dari Sidang Jemaat??”
Jawabanku : “Itulah faktanya. Namun kadang aku menghibur diri, toh TUHAN sudah me-ngampuniku (sesuai keyakinanku) dan semoga sidang jemaat juga kelak bisa me-ngampuni aku!”
sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Mazmur 103:12
Pertanyaan : “Pak Yos pernah mengalami perasaan seperti saya saat ini pak? Saya malu, saya merasa terhina, dan tidak ada muka lagi kalau saya datang ke gereja… “
Jawabanku : “Ya, itulah resiko seseorang yang telah berbuat dosa, dan telah diketahui / dibuka dosanya di depan umum. Aku dulu juga pernah mengalami hal ini, bahkan mungkin sampai sekarang, banyak yang masih menuduh dan menganggap bahwa aku adalah orang yang berdosa! Walau dosa yang kuperbuat itu sudah beberapa tahun yang lalu!”
Pertanyaan : “Bagaimana cara kak Yos menghadapi itu semua?”
Jawabanku : “Memang berat, rasanya hampir tidak be-rani muncul ke gereja, sama seperti kondisimu saat ini. Tapi, setelah beberapa waktu, banyak teman yang mengkuatkan dan mendorongku kembali. Dan, aku sadar, memang itulah RESIKO yang harus kute-rima sebagai seseorang yang berbuat dosa! Jadi, walaupun aku tidak ke gereja atau ke gereja, sama saja. Aku harus menanggung akibat perbuatanku itu!”
Pertanyaan : “Berapa lama hukuman itu kak Yos terima?”
Jawabanku : “Wah, itu kadang tergantung perasaan kita. Kupikir orang-orang (teman-teman, jemaat gereja) sudah lupa atau melupakan. Tapi perkiraanku meleset, masih ada juga yang mengingat-ingat setelah bertahun-tahun. Dan, mereka juga sering menceritakan dosa-dosaku ke orang lain juga!”
Pertanyaan : “Wow!... berat juga ya, hukuman dari Sidang Jemaat??”
Jawabanku : “Itulah faktanya. Namun kadang aku menghibur diri, toh TUHAN sudah me-ngampuniku (sesuai keyakinanku) dan semoga sidang jemaat juga kelak bisa me-ngampuni aku!”
sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Mazmur 103:12
Kemurahan Tuhan
Seorang ibu yang berusia lanjut mengajarkan kepadaku, jika seseorang memuji kita, karena ke-baikan kita (atau jasa-jasa yang sudah kita lakukan / kerjakan bagi mereka), kita harus mengatakan :
Kata Ibu aku harus mengatakan : “Kemurahan Tuhan . . . Tuhan masih mau memakai kita!”
Dia juga selalu berdoa untukku, supaya aku memiliki ke-rendahan hati! Bukan tidak ada rencana Tuhan jika ibu ini memperingatkan aku terus. Beberapa hamba Tuhan juga pernah menasehatiku (dan kuyakin memang aku begitu. . .) : “Yosafat kamu JANGAN SOMBONG … karena tu-lisanmu bagus… “ dan “Yosafat kamu JANGAN BESAR KEPALA … karena gambar yang kamu buat …”.
Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Roma 2:4
Kata Ibu aku harus mengatakan : “Kemurahan Tuhan . . . Tuhan masih mau memakai kita!”
Dia juga selalu berdoa untukku, supaya aku memiliki ke-rendahan hati! Bukan tidak ada rencana Tuhan jika ibu ini memperingatkan aku terus. Beberapa hamba Tuhan juga pernah menasehatiku (dan kuyakin memang aku begitu. . .) : “Yosafat kamu JANGAN SOMBONG … karena tu-lisanmu bagus… “ dan “Yosafat kamu JANGAN BESAR KEPALA … karena gambar yang kamu buat …”.
Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? Roma 2:4
Fokus Doa
Suatu malam, sekitar pukul 2 pagi, pintu rumah kami digedor oleh tetangga. Saya dan istri kaget, lalu ba-ngun dari tidur. Di depan rumah sudah berkumpul bapak-bapak dan ibu-ibu. Rupanya mereka bersepakat untuk meminta bantu doa, karena ada seorang ibu yang sakit parah, tidak mau minum obat dan makan, dan sekarang mengunci pintu kamarnya tidak mau dibuka oleh siapapun.
Setelah kami datang, saya diminta berdoa.
Tanya Saya : “Apa masalahnya dengan ibu ini?”
Para tetangga menyampaikan banyak informasi, tapi satu yang saya tangkap – ibu ini TIDAK MAU MEMBUKAKAN PINTU KAMARNYA. Di dalam dia hanya ditemani oleh suaminya dan seorang bapak tetangga kami.
Jawab Saya : Saya mengajak yang hadir dan mau berdoa mendoakan semoga ibu in “MAU MEMBUKA PINTU KAMARNYA”
Jawaban Tuhan : Beberapa menit kemudian, ibu ini
merelakan pintu kamarnya dibuka!
Kami masuk, dan saya masih diminta untuk sekali lagi mendoakan ibu ini. Saya bukan ahli berdoa. Saya tanya lagi, apa masalah ibu ini. Saya simpulkan, ibu ini tidak mau makan. Itulah kekerasan hatinya. Jika secara jasmani saja tidak mau makan, bagaiamana mengharapkan kesembuhan?
Jawab Saya : “Saya doakan lagi, supaya ibu ini diberi SEMANGAT HIDUP, supaya dia mau berjuang untuk anak dan suaminya.”
Jawaban Tuhan : Ibu ini akhirnya mau makan, dan sekarang dalam keadaan sehat.
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Markus 11:24
Setelah kami datang, saya diminta berdoa.
Tanya Saya : “Apa masalahnya dengan ibu ini?”
Para tetangga menyampaikan banyak informasi, tapi satu yang saya tangkap – ibu ini TIDAK MAU MEMBUKAKAN PINTU KAMARNYA. Di dalam dia hanya ditemani oleh suaminya dan seorang bapak tetangga kami.
Jawab Saya : Saya mengajak yang hadir dan mau berdoa mendoakan semoga ibu in “MAU MEMBUKA PINTU KAMARNYA”
Jawaban Tuhan : Beberapa menit kemudian, ibu ini
merelakan pintu kamarnya dibuka!
Kami masuk, dan saya masih diminta untuk sekali lagi mendoakan ibu ini. Saya bukan ahli berdoa. Saya tanya lagi, apa masalah ibu ini. Saya simpulkan, ibu ini tidak mau makan. Itulah kekerasan hatinya. Jika secara jasmani saja tidak mau makan, bagaiamana mengharapkan kesembuhan?
Jawab Saya : “Saya doakan lagi, supaya ibu ini diberi SEMANGAT HIDUP, supaya dia mau berjuang untuk anak dan suaminya.”
Jawaban Tuhan : Ibu ini akhirnya mau makan, dan sekarang dalam keadaan sehat.
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Markus 11:24
Kamis, 08 Juli 2010
Waktu Aku Menggambar Tabernakel
Sepulang dari sekolah (SMA, sekitar tahun 1983 – 1985) aku mendapat kepercayaan untuk menggambar Tabernakel dalam ukuran besar, di papan sejenis plywood warna putih buat gerejaku. Aku memang menawarkan diri untuk menggambarnya sebab yang ada di gereja di desa kami waktu itu Cuma digambar di atas papan tulis warna hitam, dengan cat putih. Lalu gambar obyek Tabernakel digambar dengan kapur putih. Gembalaku, almarhum berkata :
Kata Gembalaku : “Yos, gambarmu nanti kelak sampai ke Amerika!”
Jawabku : “Tidak mungkin, mustahil… aku khan Cuma tinggal di desa kecil seperti ini?”
Jawaban Tuhan : “Sekarang dengan teknologi INTERNET, gambarmu bukan saja sampai di Amerika, tapi bisa sampai di seluruh dunia!” Memang, aku sering menulis Firman Tuhan yang kudengar, untuk kumuat di Internet, supaya bisa dibaca (atau tulisanku dikritik) banyak orang! Dalam hitungan detik, tulisan dan gambarku bisa dilihat siapapun juga di permukaan planet Bumi ini!]
Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, Mazmur 9:12
Kata Gembalaku : “Yos, gambarmu nanti kelak sampai ke Amerika!”
Jawabku : “Tidak mungkin, mustahil… aku khan Cuma tinggal di desa kecil seperti ini?”
Jawaban Tuhan : “Sekarang dengan teknologi INTERNET, gambarmu bukan saja sampai di Amerika, tapi bisa sampai di seluruh dunia!” Memang, aku sering menulis Firman Tuhan yang kudengar, untuk kumuat di Internet, supaya bisa dibaca (atau tulisanku dikritik) banyak orang! Dalam hitungan detik, tulisan dan gambarku bisa dilihat siapapun juga di permukaan planet Bumi ini!]
Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, Mazmur 9:12
Tuhan Hadir Di Kelasku
Waktu aku tidak bisa melihat tulisan di papan tulis, di kelas 2 SMP. Aku tidak bisa membaca sebab belum mampu membeli sebuah kacamata. Dan aku tidak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis.
Tanyaku : “TUHAN YESUS, jika Engkau ada di sini sekarang, aku yakin, Engkau akan mau membantuku untuk menuliskan soal-soal di papan tulis itu. Aku tidak butuh jawabannya. Aku tidak mau me-nyontek dan dicontekin. Aku Cuma butuh dituliskan soalnya saja.”
Jawaban Tuhan : Tuhan menggerakkan hati ibu guru untuk menanyakan mengapa aku belum mengerjakan soal ulangan di papan tulis. Setelah mengatahui masalah yang kuhadapi, ibu guru menyuruh teman sebangkuku menuliskan soal-soal buatku!
Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa bagiku! Walau secara ‘fisik’ Tuhan tidak menampilkan diri-Nya, aku belajar mengerti bahwa DIA bisa menggerakkan hati seseorang untuk menyatakan kehadiran-Nya!
Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. Imamat 26:12
Tanyaku : “TUHAN YESUS, jika Engkau ada di sini sekarang, aku yakin, Engkau akan mau membantuku untuk menuliskan soal-soal di papan tulis itu. Aku tidak butuh jawabannya. Aku tidak mau me-nyontek dan dicontekin. Aku Cuma butuh dituliskan soalnya saja.”
Jawaban Tuhan : Tuhan menggerakkan hati ibu guru untuk menanyakan mengapa aku belum mengerjakan soal ulangan di papan tulis. Setelah mengatahui masalah yang kuhadapi, ibu guru menyuruh teman sebangkuku menuliskan soal-soal buatku!
Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa bagiku! Walau secara ‘fisik’ Tuhan tidak menampilkan diri-Nya, aku belajar mengerti bahwa DIA bisa menggerakkan hati seseorang untuk menyatakan kehadiran-Nya!
Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. Imamat 26:12
Waktu Aku Tenggelam Di Sungai
Sewaktu masih sekolah di SD, aku pernah tenggelam di sungai. Suatu hari, sepulang sekolah aku bersepeda ke sebuah “jalur dam”, di dekat rumah kami. Di sana, hari itu aku melihat anak-anak sebayaku sedang asyik berenang. Aku tak berpikir panjang, melihat betapa senangnya mereka berenang.
Langsung kubuka pakaian atasku, sepeda kutaruh begitu saja, dan aku melompat ke dalam air… dan… ini yang tidak kuduga… ternyata jalur air itu cukup dalam. (Aku pernah belajar berenang beberapa kali ke kota Kediri, tapi itu belum bisa dikatakan berenang, karena hanya main-main di air saja, dan kakiku masih bisa menyentuh dasarnya kolam renang itu). Aku langsung tenggelam! Dalam hitungan detik, aku sudah panik, karena kakiku ternyata tidak bisa menyentuh ke dasar “jalur air” tersebut.
Tanyaku : Sepersekian detik, aku ingat akan nama YESUS ini. Karena mulutku tidak bisa bersuara, aku hanya mampu berteriak di dalam hati : “YESUS! Tolong saya! YESUS, tolong aku…. !!!! “
Jawaban Tuhan : Mendadak, aku seperti memiliki kekuatan dan dorongan untuk menggerakkan ke dua kaki dan
tanganku, dan aku mencapai tepi jalur air tersebut!
Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, Mazmur 107:19
Langsung kubuka pakaian atasku, sepeda kutaruh begitu saja, dan aku melompat ke dalam air… dan… ini yang tidak kuduga… ternyata jalur air itu cukup dalam. (Aku pernah belajar berenang beberapa kali ke kota Kediri, tapi itu belum bisa dikatakan berenang, karena hanya main-main di air saja, dan kakiku masih bisa menyentuh dasarnya kolam renang itu). Aku langsung tenggelam! Dalam hitungan detik, aku sudah panik, karena kakiku ternyata tidak bisa menyentuh ke dasar “jalur air” tersebut.
Tanyaku : Sepersekian detik, aku ingat akan nama YESUS ini. Karena mulutku tidak bisa bersuara, aku hanya mampu berteriak di dalam hati : “YESUS! Tolong saya! YESUS, tolong aku…. !!!! “
Jawaban Tuhan : Mendadak, aku seperti memiliki kekuatan dan dorongan untuk menggerakkan ke dua kaki dan
tanganku, dan aku mencapai tepi jalur air tersebut!
Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, Mazmur 107:19
Jika Musuh Menyerang Kita
Judul tersebut merupakan judul tema kotbah Gembalaku di Surabaya yang tercantum di salah satu edisi Warta Mingguan gereja kami. Ayat pokoknya adalah “Jika seterumu lapar, berilah dia makan, Jika dia haus, berilah minum…” (Roma 12:20) Ini memang mudah didengar, tapi tidak gampang dipraktekkan. Oleh kemurahan Tuhan, saya diberi kesempatan untuk mempraktekkan hal ini.
Seperti biasa, suatu hari saya berangkat ke kantor naik bis kota. Saya selalu waspada dan berhati-hati selama ini, dan puji Tuhan . . . tidak pernah kecopetan. Tapi, ternyata hari itu, saya mengalami hal yang kurang menyenangkan : Handphone saya dicopet!
Beberapa detik setelah pencopet itu berhasil mengambil HP dari saku saya, saya langsung berniat mengejarnya, dan kalau bisa menangkapnya. Mendadak detik itu juga, sesuatu menahan langkah saya mengejar pencopet (yang sudah turun dan lari dari bis kota). Ayat tadi terlintas :
Tanya Tuhan : “Yos, apakah kau tidak mau mempraktekkan firman Tuhan yang kau dengar minggu lalu?”
Jawabku : “Ya, mau sih, tapi mengapa harus sekarang? Mengapa harus kehilangan handphoneku?”
Tanya Tuhan : “Mau atau tidak, tidak masalah . . .
Tidak ada masalah…”
Jawabku : [setelah berpikir beberapa detik]. “Baiklah, aku akan melakukan firman-Mu, walau harus kehilangan hapeku… (lalu saya berdoa) TUHAN, berkatilah pencopet itu, selamatkan jiwanya, selamatkan jiwa keluarganya. Biarlah dia mengenal dan percaya kepada nama-Mu, dan diselamatkan. Berkati juga pak sopir, pak kondektur dan seluruh penumpang bis kota ini, dan jikalau mungkin . . . selamatkan jiwa mereka semua!“
Akhirnya kubiarkan pencopet itu berlalu, dan aku meneruskan perjalanan ke kantor. Setibanya di kantor, aku mendapat ‘penghakiman’ atas kecerobohanku, bahkan beberapa teman kantor langsung tahu bahwa aku “tidak berdoa” waktu berangkat ke kantor. Waktu menelepon rumah, aku juga mendapat ‘penghakiman’ dari istriku karena aku kurang hati-hati. Namun semua kuterima dengan ikhlas, sebab aku tahu bahwa semua itu kesalahanku!
Jawaban Tuhan :
Beberapa minggu kemudian, seorang anggota jemaat memberiku sebuah handphone yang ‘lebih baik’ dari yang telah dicopet di bis kota.
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Roma 12:17
Seperti biasa, suatu hari saya berangkat ke kantor naik bis kota. Saya selalu waspada dan berhati-hati selama ini, dan puji Tuhan . . . tidak pernah kecopetan. Tapi, ternyata hari itu, saya mengalami hal yang kurang menyenangkan : Handphone saya dicopet!
Beberapa detik setelah pencopet itu berhasil mengambil HP dari saku saya, saya langsung berniat mengejarnya, dan kalau bisa menangkapnya. Mendadak detik itu juga, sesuatu menahan langkah saya mengejar pencopet (yang sudah turun dan lari dari bis kota). Ayat tadi terlintas :
Tanya Tuhan : “Yos, apakah kau tidak mau mempraktekkan firman Tuhan yang kau dengar minggu lalu?”
Jawabku : “Ya, mau sih, tapi mengapa harus sekarang? Mengapa harus kehilangan handphoneku?”
Tanya Tuhan : “Mau atau tidak, tidak masalah . . .
Tidak ada masalah…”
Jawabku : [setelah berpikir beberapa detik]. “Baiklah, aku akan melakukan firman-Mu, walau harus kehilangan hapeku… (lalu saya berdoa) TUHAN, berkatilah pencopet itu, selamatkan jiwanya, selamatkan jiwa keluarganya. Biarlah dia mengenal dan percaya kepada nama-Mu, dan diselamatkan. Berkati juga pak sopir, pak kondektur dan seluruh penumpang bis kota ini, dan jikalau mungkin . . . selamatkan jiwa mereka semua!“
Akhirnya kubiarkan pencopet itu berlalu, dan aku meneruskan perjalanan ke kantor. Setibanya di kantor, aku mendapat ‘penghakiman’ atas kecerobohanku, bahkan beberapa teman kantor langsung tahu bahwa aku “tidak berdoa” waktu berangkat ke kantor. Waktu menelepon rumah, aku juga mendapat ‘penghakiman’ dari istriku karena aku kurang hati-hati. Namun semua kuterima dengan ikhlas, sebab aku tahu bahwa semua itu kesalahanku!
Jawaban Tuhan :
Beberapa minggu kemudian, seorang anggota jemaat memberiku sebuah handphone yang ‘lebih baik’ dari yang telah dicopet di bis kota.
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Roma 12:17
Langganan:
Postingan (Atom)