Tampilkan postingan dengan label Orang Tuaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Tuaku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juli 2010

Minta Ampun Kepada Orang Tua

Tanya seorang pemuda kepadaku, apakah perlu meminta ampun atas dosa kepada orang tua, dan kapan dilakukan?

Pertanyaan : “Kak Yos, perlukah meminta ampun dosa kepada orang tua, dan waktu yang tepat, kapan melakukannya?”

Jawabanku : “Tidak ada kriteria khusus tentang hal ini, tapi saya punya pengalaman yang indah soal pengampunan. Dulu aku pernah menyakitkan hati mamaku. Sewaktu masih SMP, aku berlatih menyanyi untuk paduan suara kaum muda. Waktu itu mamaku menyuruhku melakukan suatu pekerjaan, tapi aku menolaknya, hingga mamaku menangis… “

Pertanyaan : “Kak Yos langsung minta ampun?”

Jawabanku : “Tidak, tapi sewaktu mamaku sakit, dan menjelang kematiannya, TUHAN memberikan aku kesempatan indah. Sewaktu aku mau berangkat bekerja ke kota Surabaya, suatu malam aku sempat minta ampun kepadanya… “

Pertanyaan : “Setelah itu???”

Jawabanku : “Nah, itulah peristiwa yang tak terlupakan. Setelah aku bekerja beberapa minggu, boss-ku menyuruh aku pulang ke desa. Waktu itu aku tahu, bahwa mamaku pasti sudah meninggal. Tapi aku tidak menyesal, karena aku masih DIBERI KESEMPATAN MINTA AMPUN DOSAku sebagai anak yang tentunya menyakiti hatinya!”

Pertanyaan : “Kepada papa juga?”

Jawabanku : “Ya, beberapa tahun sebelumnya, waktu aku masih duduk di bangku SMP, papakupun juga meninggal karena penyakitnya. Tapi kurang beberapa hari, sekali lagi TUHAN memberi kesempatan padaku untuk MEMINTA AMPUN padanya. Hanya selisih beberapa hari saja! Suatu hari, setelah pulang dari gereja, Firman Tuhan membimbingku untuk meminta ampun kepada papaku. Beberapa hari kemudian, papa dipanggil Tuhan!”

…. [pemuda itu terdiam. Mungkin berpikir..]

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Yesaya 55:7

Darah Mamaku

Waktu mama sakit kanker kandungan, aku tahu dia tidak akan tertolong lagi. Suatu hari, sepulang dari sebuah lab. Di kota Blitar, aku naik becak dengan membawa sampel (contoh) darah mamaku. Di tanganku, aku memandang sedikit darah, yang dahulu pernah dikeluarkannya waktu melahirkan aku. Darah mama yang juga mengalir di tu-buhku saat ini.

Pertanyaanku : “TUHAN, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan nyawa mamaku? Apakah yang bisa kulakukan? Tolonglah aku, TUHAN!”

JAWAB TUHAN : “Yos, darah mamamu yang kau pegang, kau TIDAK MUNGKIN MEMBALASNYA… apalagi Darah-Ku yang Kutumpahkan bagimu di atas salib…
kau TAK MUNGKIN MEMBALASNYA!

Jika aku mengangkat roti perjamuan suci dan gelas perjamuan suci, adegan ini terbayang jelas di mata batinku. Ya, aku tak mungkin membalas darah mamaku dan Tuhan Yesus yang sudah dialirkan bagiku!

Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:13-14)

Papaku Perokok Berat Dan Pemikir Berat

Sewaktu papaku sakit keras, aku rasa ini karena dia perokok berat dan suka memendam perasaan, memikirkan masalahnya sendiri, suka mengalah walau di-jahati (dikhianati) oleh teman-temannya.

Pertanyaanku : “Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti papaku? Meninggal karena penyakit paru-parunya, dan beberapa temannya menyatakan bahwa dia terlalu ‘memikir’kan masalah yang dihadapinya dengan begitu berat!”

Jawabanku : “Aku tidak mau seperti papaku. Mati karena rokok, sebagai penyebab penyakitnya. Akhirnya mama yang menderita. Aku tidak mau merokok, dan aku tidak mau memikirkan persoalan hidup secara berle-bihan. Aku harus belajar memanajemen pikiranku, supaya bebas, dan memandang segalanya dengan wajar dan normal.”

Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk
menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
Roma 15:4

apaku Suka Membagi

Banyak hal yang kupelajari dari papaku almarhum. Sewaktu aku masih duduk di kelas SD, seingatku sepulang sekolah sering aku melihat di dapur banyak bahan-bahan masakan, sayuran dan sebagainya.

Peratanyaanku pada mama : “Ma, dari mana semua itu? “

Jawaban mama : “Ada yang memberi papamu…”

Pertanyaanku : “Siapa mereka ma?”

Jawaban mama : “Biasanya, mereka orang-orang desa, yang menserviskan arlojinya ke papamu. “

Pertanyaanku : “Service arloji khan pekerjaan papa, dan membayarnya biasanya menggunakan uang?”

Jawaban mama : “Itulah kelebihan dan kebaikan hati papamu! Jika mereka belum punya uang cukup untuk membayar ongkos service-nya, maka papamu memberikan kebebasan kepada mereka. Sebagai balas budi kebaikkan papamu, mereka melunasi ‘kekurangan ongkos service’nya dengan bonus-bonus bahan masakan, sayuran, buah dan lain-lain…”

[Selain itu, papaku juga sering membagikan hasil buruannya. Waktu itu, 30 tahun yang lalu, papa masih memiliki hobi berburu, menembak bajing / tupai atau burung. Tapi sepanjang perjalanan pulang, papa sering membagi-bagikan hasil buruannya ke teman-teman yang dijumpainya.]

Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ibrani 12:10