Waktu aku tidak bisa melihat tulisan di papan tulis, di kelas 2 SMP. Aku tidak bisa membaca sebab belum mampu membeli sebuah kacamata. Dan aku tidak bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis.
Tanyaku : “TUHAN YESUS, jika Engkau ada di sini sekarang, aku yakin, Engkau akan mau membantuku untuk menuliskan soal-soal di papan tulis itu. Aku tidak butuh jawabannya. Aku tidak mau me-nyontek dan dicontekin. Aku Cuma butuh dituliskan soalnya saja.”
Jawaban Tuhan : Tuhan menggerakkan hati ibu guru untuk menanyakan mengapa aku belum mengerjakan soal ulangan di papan tulis. Setelah mengatahui masalah yang kuhadapi, ibu guru menyuruh teman sebangkuku menuliskan soal-soal buatku!
Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa bagiku! Walau secara ‘fisik’ Tuhan tidak menampilkan diri-Nya, aku belajar mengerti bahwa DIA bisa menggerakkan hati seseorang untuk menyatakan kehadiran-Nya!
Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. Imamat 26:12
Tampilkan postingan dengan label Pertolongan-Nya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertolongan-Nya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Juli 2010
Waktu Aku Tenggelam Di Sungai
Sewaktu masih sekolah di SD, aku pernah tenggelam di sungai. Suatu hari, sepulang sekolah aku bersepeda ke sebuah “jalur dam”, di dekat rumah kami. Di sana, hari itu aku melihat anak-anak sebayaku sedang asyik berenang. Aku tak berpikir panjang, melihat betapa senangnya mereka berenang.
Langsung kubuka pakaian atasku, sepeda kutaruh begitu saja, dan aku melompat ke dalam air… dan… ini yang tidak kuduga… ternyata jalur air itu cukup dalam. (Aku pernah belajar berenang beberapa kali ke kota Kediri, tapi itu belum bisa dikatakan berenang, karena hanya main-main di air saja, dan kakiku masih bisa menyentuh dasarnya kolam renang itu). Aku langsung tenggelam! Dalam hitungan detik, aku sudah panik, karena kakiku ternyata tidak bisa menyentuh ke dasar “jalur air” tersebut.
Tanyaku : Sepersekian detik, aku ingat akan nama YESUS ini. Karena mulutku tidak bisa bersuara, aku hanya mampu berteriak di dalam hati : “YESUS! Tolong saya! YESUS, tolong aku…. !!!! “
Jawaban Tuhan : Mendadak, aku seperti memiliki kekuatan dan dorongan untuk menggerakkan ke dua kaki dan
tanganku, dan aku mencapai tepi jalur air tersebut!
Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, Mazmur 107:19
Langsung kubuka pakaian atasku, sepeda kutaruh begitu saja, dan aku melompat ke dalam air… dan… ini yang tidak kuduga… ternyata jalur air itu cukup dalam. (Aku pernah belajar berenang beberapa kali ke kota Kediri, tapi itu belum bisa dikatakan berenang, karena hanya main-main di air saja, dan kakiku masih bisa menyentuh dasarnya kolam renang itu). Aku langsung tenggelam! Dalam hitungan detik, aku sudah panik, karena kakiku ternyata tidak bisa menyentuh ke dasar “jalur air” tersebut.
Tanyaku : Sepersekian detik, aku ingat akan nama YESUS ini. Karena mulutku tidak bisa bersuara, aku hanya mampu berteriak di dalam hati : “YESUS! Tolong saya! YESUS, tolong aku…. !!!! “
Jawaban Tuhan : Mendadak, aku seperti memiliki kekuatan dan dorongan untuk menggerakkan ke dua kaki dan
tanganku, dan aku mencapai tepi jalur air tersebut!
Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, Mazmur 107:19
Jika Musuh Menyerang Kita
Judul tersebut merupakan judul tema kotbah Gembalaku di Surabaya yang tercantum di salah satu edisi Warta Mingguan gereja kami. Ayat pokoknya adalah “Jika seterumu lapar, berilah dia makan, Jika dia haus, berilah minum…” (Roma 12:20) Ini memang mudah didengar, tapi tidak gampang dipraktekkan. Oleh kemurahan Tuhan, saya diberi kesempatan untuk mempraktekkan hal ini.
Seperti biasa, suatu hari saya berangkat ke kantor naik bis kota. Saya selalu waspada dan berhati-hati selama ini, dan puji Tuhan . . . tidak pernah kecopetan. Tapi, ternyata hari itu, saya mengalami hal yang kurang menyenangkan : Handphone saya dicopet!
Beberapa detik setelah pencopet itu berhasil mengambil HP dari saku saya, saya langsung berniat mengejarnya, dan kalau bisa menangkapnya. Mendadak detik itu juga, sesuatu menahan langkah saya mengejar pencopet (yang sudah turun dan lari dari bis kota). Ayat tadi terlintas :
Tanya Tuhan : “Yos, apakah kau tidak mau mempraktekkan firman Tuhan yang kau dengar minggu lalu?”
Jawabku : “Ya, mau sih, tapi mengapa harus sekarang? Mengapa harus kehilangan handphoneku?”
Tanya Tuhan : “Mau atau tidak, tidak masalah . . .
Tidak ada masalah…”
Jawabku : [setelah berpikir beberapa detik]. “Baiklah, aku akan melakukan firman-Mu, walau harus kehilangan hapeku… (lalu saya berdoa) TUHAN, berkatilah pencopet itu, selamatkan jiwanya, selamatkan jiwa keluarganya. Biarlah dia mengenal dan percaya kepada nama-Mu, dan diselamatkan. Berkati juga pak sopir, pak kondektur dan seluruh penumpang bis kota ini, dan jikalau mungkin . . . selamatkan jiwa mereka semua!“
Akhirnya kubiarkan pencopet itu berlalu, dan aku meneruskan perjalanan ke kantor. Setibanya di kantor, aku mendapat ‘penghakiman’ atas kecerobohanku, bahkan beberapa teman kantor langsung tahu bahwa aku “tidak berdoa” waktu berangkat ke kantor. Waktu menelepon rumah, aku juga mendapat ‘penghakiman’ dari istriku karena aku kurang hati-hati. Namun semua kuterima dengan ikhlas, sebab aku tahu bahwa semua itu kesalahanku!
Jawaban Tuhan :
Beberapa minggu kemudian, seorang anggota jemaat memberiku sebuah handphone yang ‘lebih baik’ dari yang telah dicopet di bis kota.
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Roma 12:17
Seperti biasa, suatu hari saya berangkat ke kantor naik bis kota. Saya selalu waspada dan berhati-hati selama ini, dan puji Tuhan . . . tidak pernah kecopetan. Tapi, ternyata hari itu, saya mengalami hal yang kurang menyenangkan : Handphone saya dicopet!
Beberapa detik setelah pencopet itu berhasil mengambil HP dari saku saya, saya langsung berniat mengejarnya, dan kalau bisa menangkapnya. Mendadak detik itu juga, sesuatu menahan langkah saya mengejar pencopet (yang sudah turun dan lari dari bis kota). Ayat tadi terlintas :
Tanya Tuhan : “Yos, apakah kau tidak mau mempraktekkan firman Tuhan yang kau dengar minggu lalu?”
Jawabku : “Ya, mau sih, tapi mengapa harus sekarang? Mengapa harus kehilangan handphoneku?”
Tanya Tuhan : “Mau atau tidak, tidak masalah . . .
Tidak ada masalah…”
Jawabku : [setelah berpikir beberapa detik]. “Baiklah, aku akan melakukan firman-Mu, walau harus kehilangan hapeku… (lalu saya berdoa) TUHAN, berkatilah pencopet itu, selamatkan jiwanya, selamatkan jiwa keluarganya. Biarlah dia mengenal dan percaya kepada nama-Mu, dan diselamatkan. Berkati juga pak sopir, pak kondektur dan seluruh penumpang bis kota ini, dan jikalau mungkin . . . selamatkan jiwa mereka semua!“
Akhirnya kubiarkan pencopet itu berlalu, dan aku meneruskan perjalanan ke kantor. Setibanya di kantor, aku mendapat ‘penghakiman’ atas kecerobohanku, bahkan beberapa teman kantor langsung tahu bahwa aku “tidak berdoa” waktu berangkat ke kantor. Waktu menelepon rumah, aku juga mendapat ‘penghakiman’ dari istriku karena aku kurang hati-hati. Namun semua kuterima dengan ikhlas, sebab aku tahu bahwa semua itu kesalahanku!
Jawaban Tuhan :
Beberapa minggu kemudian, seorang anggota jemaat memberiku sebuah handphone yang ‘lebih baik’ dari yang telah dicopet di bis kota.
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Roma 12:17
Selalu ada alasan Tuhan menolong hamba-hamba-Nya
Beberapa hari yg lalu, di kantor Gereja seorang hamba Tuhan datang / singgah untuk membeli beberapa buku nyanyian “PSALLO”. Sambil menunggu petugas yang melayaninya, saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan beliau, seputar lagu-lagu pujian. Saya share bagaimana seorang song leader seharusnya memiliki hikmat untuk memilih lagu-lagu yang akan dinyanyikan sidang jemaat, sehingga sidang jemaat benar-benar memuji Tuhan. Bukan hanya memilih lagu-lagu baru yang membuat jemaat hanya menjadi ‘penonton dan pendegar’ saja, namun seharusnya masih memilih lagu-lagu ‘lama’ namun bisa mengajak seluruh sidang jemaat benar-benar membuka mulut untuk memuji kebesaran nama Tuhan Yesus!
Dialog kami berlanjut hingga buku-buku “Psallo” sudah selesai dibungkus dan diserahkan kepada hamba Tuhan itu. Dia menyaksikan tentang perjuanganya di sebuah kampung yang dilayaninya, beberapa tahun silam, di pedalaman Kalimantan. Dia diminta oleh penduduk untuk meninggalkan kampung itu. Padahal, di sana sudah berdiri gereja yang dilayaninya bersama istri. Mengapa? Ternyata ada beberapa pihak yang ingin ‘mengambil alih’ gereja tsb.
Beberapa kejadian yang luar biasa dialaminya bersama keluarga dan sidang jemaat di sana. Pada suatu hari, sementara melayani sekolah minggu, mendadak dia diserang oleh seorang penduduk, dia dipukul berulang kali, dan menyebabkan tubuhnya terlempar cukup jauh. Namun sewaktu masalah ini dibawa ke pihak yang berwajib, hamba Tuhan ini menjadi kesaksian bagi semua orang, karena walaupun dipukul berulang kali, tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Sehingga pihak polisi kebingungan untuk memproses kasus ini : saksi-saksi tidak bisa membuktikan bahwa pemukulan itu benar-benar terjadi, karena tidak ada bukti-bukti penganiayaan.
Sebaliknya, warga merasa ketakutan, karena salah seorang anggota sidang jemaat yang dilayaninya, yang dipercayai oleh penduduk kampung itu, tidak hadir pada peristiwa tsb. Anggota jemaat ini diyakini memiliki ‘ilmu dan kekuatan’ yang sangat menakutkan warga. Warga kuatir, jika orang ini mendengar bahwa hamba Tuhan yang melayani gerejanya dianiaya, dia akan membalas kepada para penganiaya itu dengan pembalasan yang lebih menakutkan!
Akhirnya dengan berat hati, hamba Tuhan itu beserta istri dan anak meninggalkan kampung tsb. Tindakan ini dilakukan demi keselamatan warga kampung itu. Sekarang, hamba Tuhan ini melayani di tempat lain, di pulau lain di negara kita.
Saya mengkomentari pengalaman beliau, bahwa walaupun secara fisik beliau sudah meninggalkan tempat itu, tapi saya yakin, bahwa peristiwa-peristiwa ajaib itu, akan terus diperdengarkan di kampung itu, dan kampung-kampung sekitarnya : bahwa Tuhan Yesus mampu melindungi hamba-hamba-Nya yang diutus-Nya untuk memberitakan Firman Tuhan (Injil Kristus)! Saya yakin, generasi demi generasi akan mengulangi kisah-kisah ini!
Banyak pengalaman lain yang tidak sempat dibagikan kepada kami siang itu, salah satunya : pernah anaknya tenggelam di sungai, sewaktu belajar berenang. Seluruh penduduk segera terjun ke sungai untuk mencari anak hamba Tuhan ini. Tetapi setelah lama tidak diketemukan, maka mereka mulai putus asa, dan menganggap anak itu sudah tewas karena terseret air sungai yang deras. Namun dengan iman, hamba Tuhan ini memohon dan menyeru kepada nama Tuhan Yesus, supaya menolong anaknya yang jatuh ke sungai. Puji Tuhan, Tuhan mendengar seruannya, dan anak tsb mendadak muncul dari dalam sungai. Warga segera menolong anak itu, dan sewaktu mereka berusaha mengeluarkan air yang diduga ditelan anak tsb, ajaib, tidak ada setetes airpun yang ditelannya!
Saya sangat merasa malu jika membandingkan pengalaman beliau dengan sikap-sikap kita sebagai pelayan pekerjaan Tuhan yang kadang masih sangat ‘cengeng’ dan kurang dewasa. Menghadapi sikap sesama kita yang kurang menghargai pelayanan (= pekerjaan) kita, saya sudah merasa putus asa, menyesal, dan tak jarang mengambil sikap yang tidak terpuji. Sering dari mulut saya keluar kata-kata yang tidak enak didengar, karena saya merasa tidak dihargai oleh manusia.
Seringkali secara tidak sadar, kita memamerkan pelayanan yang sudah kita lakukan, mencari puji-pujian dari manusia dan penghormatan manusia yang sangat terbatas. Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan bahwa “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6 : 2). Jika kita memamerkan pelayanan kita kepada Tuhan, kita hanya mendapat pujian dari manusia, dan hanya itu saja yang kita terima sebagai ‘upah’ perbuatan kita!
Kemudian hamba tuhan itu kembali ke tempat pelayanannya, dengan membawa kesan yang sangat kuat di dalam diri saya (dan semoga juga dialami rekan-rekan kantor yang mendengar kesaksiannya), bahwa Tuhan Yesus pasti punya alasan untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya.
Beberapa detik ingatan saya juga membawa saya kepada kesaksian seorang hamba Tuhan lain yang melayani di sebuah desa di luar pulau Jawa. Dia lewat suratnya menyatakan bahwa Tuhan Yesus sangat memberkati pelayanannya di sana, bisa mendirikan gedung gereja dan mendapat bantuan dan dukungan dari seluruh sidang jemaat. “Mengapa Tuhan sangat memberkati hamba Tuhan itu?” tanya saya di dalam hati. Ketika saya ungkapkan pertanyaan ini, beberapa fulltimers di kantor itu memberikan jawaban. Ternyata, hamba Tuhan itu adalah ‘mantan’ seorang pekerja yang pernah melayani di gerejanya. Dia dikenal sebagai pengerja yang sangat rela membantu pekerjaan orang lain. Misalanya ada fulltimers atau staff kantor gereja yang pulang larut malam mengerjakan tugas-tugasnya, maka pengerja ini dengan sukarela menawarkan diri untuk mengantarkan mereka dengan mobil, pulang ke rumahnya! Jadi bagi saya, sikapnya yang suka menolong dan melayani inilah yang saat ini ‘berbuah’ dengan pelayanannya di sana!
Jawaban ini menjadi cambuk bagi saya, supaya lebih rajin mengulurkan tangan (= memberi bantuan) bagi mereka yang membutuhkan, sama seperti hamba Tuhan itu! Jika melihat sikap-sikap yang kurang terpuji dari orang lain yang selalu mau ‘dilayani tapi tidak mau melayani’ maka kesaksian 2 hamba Tuhan tadi, walau berbeda formatnya, selalu terlintas di benak saya, dan benar apa yang Tuhan Yesus ungkapkan di dalam 1 Korintus 3:8 “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.”
Marilah, kita semakin giat dalam melayani Tuhan Yesus! Amin!
Dialog kami berlanjut hingga buku-buku “Psallo” sudah selesai dibungkus dan diserahkan kepada hamba Tuhan itu. Dia menyaksikan tentang perjuanganya di sebuah kampung yang dilayaninya, beberapa tahun silam, di pedalaman Kalimantan. Dia diminta oleh penduduk untuk meninggalkan kampung itu. Padahal, di sana sudah berdiri gereja yang dilayaninya bersama istri. Mengapa? Ternyata ada beberapa pihak yang ingin ‘mengambil alih’ gereja tsb.
Beberapa kejadian yang luar biasa dialaminya bersama keluarga dan sidang jemaat di sana. Pada suatu hari, sementara melayani sekolah minggu, mendadak dia diserang oleh seorang penduduk, dia dipukul berulang kali, dan menyebabkan tubuhnya terlempar cukup jauh. Namun sewaktu masalah ini dibawa ke pihak yang berwajib, hamba Tuhan ini menjadi kesaksian bagi semua orang, karena walaupun dipukul berulang kali, tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Sehingga pihak polisi kebingungan untuk memproses kasus ini : saksi-saksi tidak bisa membuktikan bahwa pemukulan itu benar-benar terjadi, karena tidak ada bukti-bukti penganiayaan.
Sebaliknya, warga merasa ketakutan, karena salah seorang anggota sidang jemaat yang dilayaninya, yang dipercayai oleh penduduk kampung itu, tidak hadir pada peristiwa tsb. Anggota jemaat ini diyakini memiliki ‘ilmu dan kekuatan’ yang sangat menakutkan warga. Warga kuatir, jika orang ini mendengar bahwa hamba Tuhan yang melayani gerejanya dianiaya, dia akan membalas kepada para penganiaya itu dengan pembalasan yang lebih menakutkan!
Akhirnya dengan berat hati, hamba Tuhan itu beserta istri dan anak meninggalkan kampung tsb. Tindakan ini dilakukan demi keselamatan warga kampung itu. Sekarang, hamba Tuhan ini melayani di tempat lain, di pulau lain di negara kita.
Saya mengkomentari pengalaman beliau, bahwa walaupun secara fisik beliau sudah meninggalkan tempat itu, tapi saya yakin, bahwa peristiwa-peristiwa ajaib itu, akan terus diperdengarkan di kampung itu, dan kampung-kampung sekitarnya : bahwa Tuhan Yesus mampu melindungi hamba-hamba-Nya yang diutus-Nya untuk memberitakan Firman Tuhan (Injil Kristus)! Saya yakin, generasi demi generasi akan mengulangi kisah-kisah ini!
Banyak pengalaman lain yang tidak sempat dibagikan kepada kami siang itu, salah satunya : pernah anaknya tenggelam di sungai, sewaktu belajar berenang. Seluruh penduduk segera terjun ke sungai untuk mencari anak hamba Tuhan ini. Tetapi setelah lama tidak diketemukan, maka mereka mulai putus asa, dan menganggap anak itu sudah tewas karena terseret air sungai yang deras. Namun dengan iman, hamba Tuhan ini memohon dan menyeru kepada nama Tuhan Yesus, supaya menolong anaknya yang jatuh ke sungai. Puji Tuhan, Tuhan mendengar seruannya, dan anak tsb mendadak muncul dari dalam sungai. Warga segera menolong anak itu, dan sewaktu mereka berusaha mengeluarkan air yang diduga ditelan anak tsb, ajaib, tidak ada setetes airpun yang ditelannya!
Saya sangat merasa malu jika membandingkan pengalaman beliau dengan sikap-sikap kita sebagai pelayan pekerjaan Tuhan yang kadang masih sangat ‘cengeng’ dan kurang dewasa. Menghadapi sikap sesama kita yang kurang menghargai pelayanan (= pekerjaan) kita, saya sudah merasa putus asa, menyesal, dan tak jarang mengambil sikap yang tidak terpuji. Sering dari mulut saya keluar kata-kata yang tidak enak didengar, karena saya merasa tidak dihargai oleh manusia.
Seringkali secara tidak sadar, kita memamerkan pelayanan yang sudah kita lakukan, mencari puji-pujian dari manusia dan penghormatan manusia yang sangat terbatas. Bukankah Tuhan Yesus mengajarkan bahwa “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6 : 2). Jika kita memamerkan pelayanan kita kepada Tuhan, kita hanya mendapat pujian dari manusia, dan hanya itu saja yang kita terima sebagai ‘upah’ perbuatan kita!
Kemudian hamba tuhan itu kembali ke tempat pelayanannya, dengan membawa kesan yang sangat kuat di dalam diri saya (dan semoga juga dialami rekan-rekan kantor yang mendengar kesaksiannya), bahwa Tuhan Yesus pasti punya alasan untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya.
Beberapa detik ingatan saya juga membawa saya kepada kesaksian seorang hamba Tuhan lain yang melayani di sebuah desa di luar pulau Jawa. Dia lewat suratnya menyatakan bahwa Tuhan Yesus sangat memberkati pelayanannya di sana, bisa mendirikan gedung gereja dan mendapat bantuan dan dukungan dari seluruh sidang jemaat. “Mengapa Tuhan sangat memberkati hamba Tuhan itu?” tanya saya di dalam hati. Ketika saya ungkapkan pertanyaan ini, beberapa fulltimers di kantor itu memberikan jawaban. Ternyata, hamba Tuhan itu adalah ‘mantan’ seorang pekerja yang pernah melayani di gerejanya. Dia dikenal sebagai pengerja yang sangat rela membantu pekerjaan orang lain. Misalanya ada fulltimers atau staff kantor gereja yang pulang larut malam mengerjakan tugas-tugasnya, maka pengerja ini dengan sukarela menawarkan diri untuk mengantarkan mereka dengan mobil, pulang ke rumahnya! Jadi bagi saya, sikapnya yang suka menolong dan melayani inilah yang saat ini ‘berbuah’ dengan pelayanannya di sana!
Jawaban ini menjadi cambuk bagi saya, supaya lebih rajin mengulurkan tangan (= memberi bantuan) bagi mereka yang membutuhkan, sama seperti hamba Tuhan itu! Jika melihat sikap-sikap yang kurang terpuji dari orang lain yang selalu mau ‘dilayani tapi tidak mau melayani’ maka kesaksian 2 hamba Tuhan tadi, walau berbeda formatnya, selalu terlintas di benak saya, dan benar apa yang Tuhan Yesus ungkapkan di dalam 1 Korintus 3:8 “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.”
Marilah, kita semakin giat dalam melayani Tuhan Yesus! Amin!
Senin, 28 Juni 2010
Berjalan bersama Yesus
Ini kerinduanku, mengalami perjalanan di sepanjang hidup bersama Tuhan Yesus.
Waktu aku berumur sekitar 13 tahun (SMP kelas 2), aku pernah nyaris tenggelam. Waktu itu, dengan mulut penuh air, dan tidak ada yang menolongku, maka hatiku berseru : "Yesus, tolonglah aku!". Maka mendadak seakan aku didorong ke tepi sungai dan diselamatkan.
Sejak saat itu aku percaya bahwa nama Tuhan Yesus benar-benar bisa menyelamatkan mereka yang berseru kepada-Nya.
Waktu aku berumur sekitar 13 tahun (SMP kelas 2), aku pernah nyaris tenggelam. Waktu itu, dengan mulut penuh air, dan tidak ada yang menolongku, maka hatiku berseru : "Yesus, tolonglah aku!". Maka mendadak seakan aku didorong ke tepi sungai dan diselamatkan.
Sejak saat itu aku percaya bahwa nama Tuhan Yesus benar-benar bisa menyelamatkan mereka yang berseru kepada-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)